Penyakit Tepung Gila

Pada pertengahan abad keduapuluh, lebih dari setengah tepung yang diproduksi di Inggris menggunakan proses bleaching (pemutihan) untuk memastikan tepungnya seputih mungkin. Dipakai secara luas di Amerika Serikat, Kanada, dan juga di negara lain, metode pemulihan tepung yang disebut metode agene juga menghasilkan roti yang mengembang dan tampak lebih baik. Proses itu juga menghasilkan lebih banyak roti dari lebih sedikit tepung. Namun menurut riset di Universitas British Columbia, tepung itu juga mengandung senyawa yang mungkin merupakan penyebab meningkatnya jumlah kasus penyakit neurologis, termasuk alzheimer, parkinson, dan penyakit motor neurone atau ALS.

Senyawa tersebut, metionin sulfoksimin (MSO), merupakan produk sampingan dari proses pemutihan tepung menggunakan gas nitrogen diklorida. Saat dicampur dengan tepung gandum yang belum diproses, gas tersebut membuat tepung menjadi lebih putih dengan cara memutihkan pigmen dan mengubah gandum. Meskipun proses ini pertama kali dipatenkan pada tahun 1921 di Amerika, teknik ini diduga sudah digunakan jauh lebih dini pada abad itu.

Para peneliti mengatakan bahwa pernah beberapa kali, terutama selang Perang Dunia II, 80 persen tepung di Inggris diproduksi dengan cara ini, sampai diganti dengan metode produksi yang lebih baik dan tidak lagi diminati pada tahun 1950-an.

Menurut para peneliti, MSO pertama kali menarik perhatian dengan adanya laporan terus-menerus bahwa anjing yang diberi sejumlah besar tepung yang mengalami proses agene menunjukkan gejala gangguan neurologis yang dikenal sebagai histeria kanina atau kejang-kejang, yang beberapa cirinya sama dengan epilepsi.

Peran MSO dalam perkembangan dan progresivitas penyakit diduga terjadi melalui pengaruhnya pada antioksidan yang bertindak terhadap stres oksidatif. Para peneliti mengatakan bahwa terdapat semakin banyak bukti yang menunjuk stres oksidatif sebagai faktor utama kematian sel otak dalam sejumlah gangguan neurologis pada manusia.

MSO memblokir produksi dua molekul utama: glutathione (GSH) dan glutamin. GSH merupakan antioksidan utama dan pengurangan sekecil apa pun berarti mengurangi pertahanan antioksidan tubuh dan bisa menuntun ke meningkatnya stres oksidatif. Penurunan glutamin juga bisa mengakibatkan kenaikan level amonia, yang telah dikaitkan dengan penyakit alzheimer.

Para peneliti mengatakan bahwa sel dalam sistem saraf secara khusus peka terhadap penurunan GSH maupun glutamin, dua hal yang dianggap esensial bagi kesehatan dan daya hidup sel dalam sistem saraf. Mereka mengatakan bahwa efek kombinasi dari penurunan tingkat ke dua senyawa itu sebagai akibat paparan jangka panjang MSO di dalam tepung yang diputihkan, bisa memiliki efek drastis pada kesehatan dan keselamatan sel.

Tidak semua orang yang mengonsumsi tepung terkena penyakit ini, dan para peneliti menduga ada pemicu pendamping yang bekerja, termasuk kecenderungan genetis, umur, dan tingkat GSH alami.

“Sejarah MSO membangkitkan rasa ingin tahu dan mengganggu,” kata para peneliti. “Kami mengajukan hipotesis bahwa peningkatan level gangguan neurodegeneratif pada manusia mungkin muncul akibat masuknya MSO dalam makanan, sebuah produk sampingan dari pemutihan tepung. Potensi MSO, yang menjadi bagian dari makanan selama jangka waktu lama, untuk menginduksi kerusakan saraf perlu dipertimbangkan, dan menurut kami tampaknya layak diselidiki lebih lanjut.”

Referensi: C. A. Shaw dan J. S. Bains, “Did consumption of flour bleached by the agene process contribute to the incidence of neurological disease?”, Volume 51, hal. 477-481.

Categories: Artikel Kesehatan | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s