Apakah Ensefalitis Berbahaya?

head_and_brainWell, sampai saat ini, ensefalitis merupakan salah satu penyakit yang tidak dapat diremehkan. Menurut apa yang saya baca, penyakit ensefalitis ini atau yang biasanya disebut dengan radang otak, merupakan salah satu penyakit dengan gejala yang khas pada anak-anak, yaitu demam, kejang, dan penurunan kesadaran. Ensefalitis ini dapat disebabkan antara lain oleh virus, bakteri, jamur, ricketsia (masuk melalui gigitan kutu), dan parasit. Kelimanya dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

  1. ENSEFALITIS SUPURATIVA

Disebabkan oleh bakteri. Bakteri penyebab ensefalitis supurativa adalah : Staphylococcus aureus, Streptococcus, E.coli dan M.tuberculosa. 

Patogenesis

Peradangan dapat menjalar ke jaringan otak dari sumber infeksi, misalnya otitis media, mastoiditis, sinusitis, atau dari piema yang berasal dari radang, abses di dalam paru, bronchiektasis, empiema, osteomeylitis cranium, fraktur terbuka, trauma yang menembus ke dalam otak dan tromboflebitis. Reaksi dini jaringan otak terhadap kuman adalah edema, kongesti yang disusul dengan pelunakan dan pembentukan abses. Di sekeliling daerah yang meradang berproliferasi jaringan ikat dan astrosit yang membentuk kapsula. Bila kapsula pecah terbentuk lah abses yang dapat masuk ke ventrikel sehingga dapat terjadi ventrikulitis.

Manifestasi klinis

Secara umum gejala berupa trias ensefalitis ; 1. Demam, 2. Kejang, 3. Kesadaran menurun. Bila berkembang menjadi abses serebri akan timbul gejala-gejala infeksi umum, tanda-tanda meningkatnya tekanan intracranial yaitu : nyeri kepala yang kronik dan progresif,muntah, penglihatan kabur, kejang, kesadaran menurun, pada pemeriksaan mungkin terdapat edema papil. Tanda-tanda defisit neurologis tergantung pada lokasi dan luas abses.

2.ENSEFALITIS VIRUS

Virus yang dapat menyebabkan radang otak pada manusia :

  1. Virus RNA

Paramikso virus : virus yang menyebabkan parotitis, virus yang menyebabkan morbili

Rabdovirus : virus rabies

Togavirus : virus rubella flavivirus (virus ensefalitis Jepang B, virus dengue)

Picornavirus : enterovirus (virus polio, coxsackie A,B,echovirus)

Arenavirus : virus koriomeningitis limfositoriab.

Virus DNA Herpes virus : herpes zoster-varisella, herpes simpleks, sitomegalivirus, virus Epstein-barr

Poxvirus : variola, vaksinia

Retrovirus : AIDS

Gejala klinis : Dimulai dengan demam, nyeri kepala, vertigo, nyeri badan, nausea, kesadaran menurun, timbul serangan kejang-kejang, kaku kuduk, hemiparesis dan paralysis bulbaris.Pada neonatus, penyebab terbanyak adalah HSV-2 karena infeksi dapatan dari sekret genital saat persalinan.

  1. ENSEFALITIS KARENA PARASIT
  1. Malaria serebral

Plasmodium falsifarum penyebab terjadinya malaria serebral. Gangguan utama terdapat didalam pembuluh darah mengenai parasit. Sel darah merah yang terinfeksi plasmodium falsifarum akan melekat satu sama lainnya sehingga menimbulkan penyumbatan-penyumbatan. Hemorrhagic petechia dan nekrosis fokal yang tersebar secara difus ditemukan pada selaput otak dan jaringan otak. Gejala-gejala yang timbul : demam tinggi, kesadaran menurun hingga koma. Kelainan neurologik tergantung pada lokasi kerusakan-kerusakan.

  1. Toxoplasmosis

Toxoplasma gondii pada orang dewasa biasanya tidak menimbulkan gejalagejala kecuali dalam keadaan dengan daya imunitas menurun. Didalam tubuh manusia parasit ini dapat bertahan dalam bentuk kista terutama di otot dan jaringan otak.

  1. Amebiasis

Amuba genus Naegleria dapat masuk ke tubuh melalui hidung ketika berenang di air yang terinfeksi dan kemudian menimbulkan meningoencefalitis akut. Gejala-gejalanya adalah demam akut, nausea, muntah, nyeri kepala, kaku kuduk dan kesadaran menurun.

  1. Sistiserkosis

Cysticercus cellulosae ialah stadium larva taenia. Larva menembus mukosa dan masuk kedalam pembuluh darah, menyebar ke seluruh badan. Larva dapat tumbuh menjadi sistiserkus, berbentuk kista di dalam ventrikel dan parenkim otak. Bentuk rasemosanya tumbuh didalam meninges atau tersebar didalam sisterna. Jaringan akan bereaksi dan membentuk kapsula disekitarnya. Gejaja-gejala neurologik yang timbul tergantung pada lokasi kerusakan.

  1. ENSEFALITIS KARENA FUNGUS ( JAMUR )

Fungus yang dapat menyebabkan radang antara lain : candida albicans, Cryptococcus neoformans, Coccidiodis, Aspergillus, Fumagatus dan Mucor mycosis. Gambaran yang ditimbulkan infeksi fungus pada sistim saraf pusat ialah meningo-ensefalitis purulenta. Faktor yang memudahkan timbulnya infeksi adalah daya imunitas yang menurun.

  1. RIKETSIOSIS SEREBRI

Riketsia dapat masuk ke dalam tubuh melalui gigitan kutu dan dapat menyebabkan Ensefalitis. Di dalam dinding pembuluh darah timbul noduli yang terdiri atas sebukan sel-sel mononuclear, yang terdapat pula disekitar pembuluh darah di dalam jaringan otak. Didalam pembuluh darah yang terkena akan terjadi trombosis. Gejala-gejalanya ialah nyeri kepala, demam, mula-mula sukar tidur, kemudian mungkin kesadaran dapat menurun. Gejala-gejala neurologik menunjukan lesi yang tersebar.

Secara umum, gejala – gejala yang dapat ditimbulkan penyakit ini dapat berupa :

– Demam

– Nyeri kepala

– Kejang

– Muntah

– Kelemahan otot fokal

– Gangguan status mental, psikiatri

– Kelainan gerakan

Pada neonatus atau bayi dibawah umur 28 hari, gejala akan tampak usia 4-11 hari berupa letargi, malas minum, iritabel, serta kejang.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan :

Gangguan kesadaran, demam, disfagia, ataxia, kejang fokal lebih umum dibandingkan kejang general, hemiparesis, gangguan saraf otak, hilangnya lapang pandang, serta papil edema. Pada neonatus, temperatur tidak stabil, ubun-ubun besar menonjol, ikterus, renjatan, distres nafas, serta lesi kulit.

PENATALAKSANAAN

Untuk penatalaksanaan penyakit ini, dapat dibagi menjadi terapi kausatif dan terapi simptomatis, terapi kausatif dapat disesuaikan dengan etiologi penyebabnya.

  1. Ensefalitis supurativa

– Ampisillin 100-200 mg/kg BB/hari per iv atau oral selama 10 hari dalam 4 dosis.

– Chloramphenicol 50 mg/kgBB/ hari iv selama 10 hari dalam 4 dosis

  1. Ensefalitis syphilis

– Penisillin G 50.000-100.000 IU/kgBB/hari dibagi 6 dosis selama 14 hari

– Penisillin prokain G intra muskulat + probenesid

Bila alergi penicillin :

– Tetrasiklin 50 mg/kg BB/ hari per oral selama 30 hari dalam 4 dosis

– Eritromisin 50 mg/kg BB/ hari per oral selama 30 hari dalam 4 dosis

– Seftriaxon 80 mg/kg BB/ hari iv selama 14 hari

  1. Ensefalitis virus

– Pengobatan antivirus diberikan pada ensefalitis virus dengan penyebab herpes zoster-varicella.

Asiclovir 10 mg/kgBB intra vena 3 x sehari selama 10 hari atau 200 mg peroral tiap 4 jam selama 10 hari.

  1. Ensefalitis karena parasit

– Malaria serebral

Kinin 10 mg/KgBB dalam infuse selama 4 jam, setiap 8 jam hingga tampak perbaikan.

– Toxoplasmosis

Sulfadiasin 100 mg/KgBB per oral selama 1 bulan

Pirimetasin 1 mg/KgBB per oral selama 1 bulan

Spiramisin 3 x 500 mg/hari

– Amebiasis

Rifampicin 8 mg/KgBB/hari.

  1. Ensefalitis karena fungus

– Amfoterisin 0,1- 0,25 g/KgBB/hari intravena 2 hari sekali minimal 6 minggu

– Mikonazol 30 mg/KgBB intra vena selama 6 minggu.

  1. Riketsiosis serebri

– Cloramphenicol 4 x 1 g intra vena selama 10 hari

– Tetrasiklin 4x 500 mg per oral selama 10 hari.

Pengobatan simptomatis dapat berupa

– Oksigenasi

– Nutrisi baik enteral maupun parenteral

– Analgetik dan antipiretik : Paracetamol 10mg/ kgBB/ dosis

– Anticonvulsi : Diazepam supp 0,5-0,75 mg/ kgBB/ dosis atau iv 0,3-0,5 mg/kg BB/ dosis saat kejang. Kemudian apabila tidak berhenti dapat diberikan loading Phenitoin 15-20 mg/kg BB dan phenytoin maintenance 6-8 mg/kg BB/ hari.

Ensefalitis dapat menyebabkan kematian hingga mencapai 50%. Tergantung kecepatan penanganan kejang, penyakit dasar, serta komplikasi yang terjadi. Pasien yang pengobatannya terlambat atau tidak diberikan antivirus (pada ensefalitis Herpes Simpleks) angka kematiannya tinggi bisa mencapai 70-80%. Pengobatan dini dengan asiklovir akan menurukan mortalitas menjadi 28%. Sekitar 25% pasien ensefalitis meninggal pada stadium akut. Penderita yang hidup 20-40%nya akan mempunyai komplikasi atau gejala sisa. Gejala sisa lebih sering ditemukan dan lebih berat pada ensefalitis yang tidak diobati. Keterlambatan pengobatan yang lebih dari 4 hari memberikan prognosis buruk, demikian juga koma. Pasien yang mengalami koma seringkali meninggal atau sembuh dengan gejala sisa yang berat. 10% dari kematian ensefalitis dari infeksinya atau komplikasi dari infeksi sekunder. Beberapa bentuk ensefalitis termasuk herpes ensefalitis memiliki angka mortality 15-20%  dengan treatment dan 70-80% tanpa treatment.

Sekali lagi, penyakit ini memiliki prognosis yang baik dan gejala-gejala sisa dapat diminimalisir jika ditangani dengan cepat dan tepat. Semoga tulisan saya ini dapat berguna bagi pembaca… 🙂

Daftar Pustaka

  1. Chusid,J.G. NEUROANATOMI KORELATIF dan NEUROLOGI FUNGSIONAL.Gajah Mada University Press.Bagian Dua. 1990. Hal. 579-583
  2. Faller A, Schuenke M, Schuenke G. The central and peripheral nervous systems. In : Thehuman body – an introduction to structure and function. New York : Thieme ; 2004. p.538-53
  3. Fransisca SK. Ensefalitis. [ Online ] Februari 19, 2009 [ Cited July 5, 2012 ]. Availablefrom : URL ;http://last3arthtree.files.wordpress.com/2009/02/ensefalitis2.pdf
  4. Hendrik F. Toksoplasmosis serebri sebagai manifestasi awal AIDS. [ Online ] September 23, 2009 [ Cited July 5, 2012 ]. Available from : URL ;http://neurology.multiply.com/journal/item/1921
  5. Hermans R. Imaging techniques. In : Head and neck cancer imaging. Germany : Springer ; 2006. p. 32, 38-9
  6. Hopkins R, Peden C, Gandhi S. Principles of interpreting CT. In : Radiology for anaesthesia and intensive care. London : Greenwich Medical Media ; 2003. p. 219-219.Zamponi N, Rossi B, Polonara G, Salvolini U. Neuropaediatric emergencies. In :Scarabino T, Salvolini U, Jinkins JR, editors. Emergency neuroradiology. New York :Springer ; 2006. p. 371,390-1
  7. Lazoff M. Encephalitis. [ Online ] February 26, 2010 [ Cited July 5, 2012 ]. Availablefrom : URL ;www.emedicine.medscape.com/article/791896/overview/htm
  8. Lee EJ. Unusual findings in cerebral abscess. British journal of radiology; 2006. 79,e156-e161.22
  9. Mardjono,Mahar dan Sidarta,Priguna. NEUROLOGI KLINIS DASAR. Dian Rakyat. 2003. Hal. 313-314, 421, 327-333.

10.Mardjono,Mahar. Sidarta ,Priguna. NEUROLOGI KLINIS DALAM PRAKTEK UMUM. Dian Rakyat. 1999. Hal. 36-40

11.Markam,Soemarmo. KAPITA SELEKTA NEUROLOGI. Gajah Madah University Press. Edisi Ke Dua.2003. Hal.155-162

12.Mansjoer,Arif. Suprohaita. Wardhani,Wahyu Ika. Setiowulan,Wiwiek. KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN. Media Aesculapius. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jilid 2. Edisi Ketiga. 2000. Hal.14-16

13.Moritani T, Ekhlom S, Westesson PL. Pediatrics. In : Diffusion-weighted MR imaging of the brain. New York : Springer ; 2005. p. 191

14.Saharso, Darto. 2008. Pedoman diagnosis dan terapi bag/smf ilmu kesehatan anak. edisi III. Surabaya: FK Universitas Airlangga.

15.Sutton D, Stevens J, Mizklel K. Intracranial lesions. In : Sutton D, editor. Text book of radiology and imaging 7th ed. London : Churchill Livingstone ; 2003. p. 1726

16.Samsi KMK. Ensefalitis / ensefalopati akibat flu burung ( infeksi virus influenza tipe A ).[ Online ] Agustus, 2007 [ Cited July 5, 2012 ]. Available from : URL ;http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/cdk_157_Neurologi.html

17.USU. 2011.Chapter II. available at: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23397/4/Chapter%20II.pdf

source

Categories: Artikel Kesehatan | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s